Jakarta — Tokoh sekaligus pengurus Pengacara dan Jawara Bela Umat (PEJABAT), Taufik Hidayat, mengajak seluruh elemen masyarakat, pemuda, dan mahasiswa untuk menjaga kejernihan berpikir serta tidak mudah terjebak dalam pusaran narasi provokatif yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Di tengah dinamika sosial dan politik yang semakin kompleks, perbedaan pandangan maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan menyampaikan aspirasi harus tetap dilandasi tanggung jawab moral, kedewasaan berpikir, dan komitmen menjaga kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun golongan.
Taufik Hidayat menegaskan bahwa sikap kritis merupakan kekuatan moral masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan. Namun, kritik harus dibangun di atas argumentasi yang rasional, objektif, dan berorientasi pada solusi, bukan sekadar luapan emosi ataupun provokasi yang mengarah pada tindakan destruktif. Menurutnya, keberanian menyuarakan kebenaran harus berjalan beriringan dengan kecerdasan dalam bertindak. Gerakan yang bermartabat bukan diukur dari seberapa keras menciptakan kegaduhan, melainkan seberapa kuat mampu memperjuangkan perubahan tanpa mengorbankan ketertiban dan kepentingan rakyat.
Lebih lanjut, Taufik mengingatkan bahwa masyarakat, khususnya kalangan pemuda dan mahasiswa, harus memiliki kepekaan dalam membaca berbagai narasi yang berkembang di ruang publik maupun media sosial. Jangan sampai semangat idealisme dan perjuangan yang sejatinya lahir dari kepedulian terhadap rakyat justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki agenda politik tersembunyi. Jangan biarkan idealisme dibajak, aspirasi ditunggangi, dan perjuangan rakyat dijadikan instrumen untuk menciptakan kekacauan. Independensi gerakan harus menjadi prinsip yang tidak dapat ditawar agar setiap langkah perjuangan tetap berada pada koridor kepentingan masyarakat luas.
Dalam pandangannya, aksi penyampaian pendapat merupakan hak konstitusional yang harus dihormati dan dilindungi. Namun, tindakan anarkis, perusakan fasilitas umum, kekerasan, maupun upaya menciptakan benturan antarkelompok tidak dapat dibenarkan atas nama perjuangan demokrasi. Situasi tersebut justru berpotensi mengaburkan substansi tuntutan, merugikan masyarakat, serta menimbulkan gangguan terhadap stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Kritik adalah hak, menyampaikan aspirasi adalah kebebasan, tetapi menjaga persatuan dan keselamatan bangsa merupakan tanggung jawab bersama.
Sebagai bagian dari PEJABAT, Taufik Hidayat memandang pentingnya membangun komunikasi, memperkuat persaudaraan, dan mengedepankan pendekatan dialogis dalam menyikapi berbagai persoalan kebangsaan. Seluruh elemen masyarakat diharapkan mampu menjadi kekuatan penyejuk (cooling system) yang mencegah berkembangnya provokasi dan konflik horizontal, tanpa harus kehilangan keberanian dalam mengkritisi kebijakan pemerintah. Negara membutuhkan masyarakat yang berani bersuara, pemuda yang memiliki integritas, serta mahasiswa yang mengedepankan tradisi intelektual, bukan gerakan yang mudah terseret dalam kepentingan politik praktis.
Mengakhiri pernyataannya, Taufik Hidayat mengajak seluruh komponen bangsa untuk kembali menempatkan persatuan, kepentingan rakyat, dan keutuhan NKRI sebagai landasan utama dalam setiap perjuangan. Perbedaan pandangan jangan dijadikan alasan untuk membangun permusuhan, sementara kritik terhadap pemerintah harus tetap diarahkan pada perbaikan, bukan penghancuran. “Tetaplah kritis tanpa harus anarkis, bergeraklah dengan keberanian tanpa kehilangan akal sehat, dan perjuangkan kepentingan rakyat tanpa menjadi alat kepentingan politik siapa pun. Jangan sampai semangat perubahan justru berubah menjadi pintu masuk kekacauan yang merugikan bangsa sendiri.”
