Oktober 13, 2026
BEM UNUSIA: Mahasiswa Harus Menjadi Suara Rakyat, Bukan Alat Kepentingan Politik!

BEM UNUSIA: Mahasiswa Harus Menjadi Suara Rakyat, Bukan Alat Kepentingan Politik!

JAKARTA — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (BEM UNUSIA) menyerukan kepada seluruh elemen pemuda dan mahasiswa agar tetap menjaga independensi, integritas, dan marwah intelektual dalam menyikapi dinamika sosial politik nasional yang terus berkembang. Gerakan mahasiswa harus tetap berdiri sebagai kekuatan moral dan kontrol sosial yang memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan justru terjebak dalam pusaran kepentingan politik praktis yang berpotensi mengaburkan arah perjuangan.

BEM UNUSIA menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang harus terus dijaga. Namun, keberanian menyampaikan kritik harus diimbangi dengan kedewasaan berpikir, ketajaman argumentasi, dan kejelasan tuntutan. Mahasiswa tidak boleh kehilangan orientasi perjuangan hanya karena terjebak dalam euforia mobilisasi massa, provokasi, maupun tindakan konfrontatif yang tidak memiliki korelasi dengan substansi persoalan rakyat.

“Mahasiswa harus menjadi penyambung lidah rakyat, bukan perpanjangan tangan elite politik. Jangan sampai idealisme yang dibangun melalui tradisi intelektual justru tergadai oleh kepentingan pragmatis kelompok tertentu yang menjadikan gerakan mahasiswa sebagai instrumen untuk mencapai ambisi politiknya,” demikian pesan yang diusung BEM UNUSIA.

Lebih lanjut, BEM UNUSIA mengingatkan bahwa aksi anarkis, perusakan fasilitas publik, maupun tindakan provokatif bukanlah representasi keberanian mahasiswa dalam memperjuangkan keadilan. Sebaliknya, tindakan tersebut justru berpotensi meruntuhkan legitimasi moral gerakan, mengalihkan perhatian publik dari substansi tuntutan, serta memberikan ruang bagi munculnya stigma negatif terhadap perjuangan mahasiswa. Kritik harus tetap keras, tetapi gerakan harus cerdas. Radikalisme gagasan tidak boleh diterjemahkan menjadi kekerasan di jalanan.

Di tengah kompleksitas dinamika politik nasional, independensi menjadi prinsip fundamental yang tidak boleh ditawar. BEM UNUSIA mengajak seluruh organisasi kemahasiswaan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk provokasi, manipulasi isu, maupun upaya pihak tertentu yang berusaha memanfaatkan energi gerakan mahasiswa demi kepentingan politik sesaat. Mahasiswa harus mampu membedakan antara perjuangan yang benar-benar berpihak kepada rakyat dengan mobilisasi yang sekadar menjadikan rakyat sebagai legitimasi kepentingan kelompok.

BEM UNUSIA juga menekankan pentingnya mengembalikan gerakan mahasiswa pada tradisi intelektual yang mengedepankan kajian kritis, konsolidasi gagasan, serta penyampaian aspirasi secara konstitusional dan bermartabat. Keberhasilan sebuah gerakan tidak semestinya diukur dari besarnya kerumunan massa, kerasnya benturan dengan aparat, ataupun tingginya popularitas di media sosial, melainkan dari sejauh mana tuntutan yang diperjuangkan mampu mendorong perubahan kebijakan dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Jangan biarkan perjuangan rakyat dibajak ambisi politik. Jangan biarkan provokasi mengubur substansi aspirasi. Mahasiswa harus tetap kritis tanpa menjadi anarkis, tetap berani tanpa kehilangan kendali, dan tetap independen tanpa harus kehilangan keberpihakan kepada rakyat.”Sebagai penegasan, BEM UNUSIA mengajak seluruh elemen pemuda dan mahasiswa untuk terus menjaga persatuan, memperkuat solidaritas, serta mengawal kebijakan pemerintah secara objektif dan konstruktif. Pemerintah harus tetap terbuka terhadap kritik, sementara mahasiswa harus konsisten menghadirkan gerakan yang bermartabat dan berorientasi pada kepentingan publik. Sebab, kekuatan sejati gerakan mahasiswa bukan terletak pada kemampuannya menciptakan kegaduhan, melainkan pada keberaniannya memperjuangkan kebenaran, menjaga independensi, dan menghadirkan perubahan bagi rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *